'> TWEET: WONGCILIK
Select Menu

ANEH

INFO

LIFE STYLE

MENARIK

UNIK

YOUR STORY

WONG CILIK

SBY pesan ke anak tukang becak IPK 3,96, jangan lupa Indonesia



TWEET CO.ID - Raeni, putri seorang pengayuh becak yang mendapat IPK 3,96 senang luar biasa karena mendapatkan beasiswa dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY memberikannya kesempatan melanjutkan pendidikan magister di Inggris.

Raeni terharu. Rasa senangnya semakin bertambah ketika bisa bersalaman langsung dengan SBY dan Ani Yudhoyono di Lanud Halim Perdanakusuma pagi tadi.

"Alhamdulillah, dapat kesempatan dari pak presiden dan saya bersedia. Saya berikan beasiswa, saya ucapin terima kasih," katanya saat berbincang.

Raeni dan kedua orangtuanya tak menyangka bisa mendapat hadiah dan bertemu dengan SBY. Dia berjanji tak akan mengecewakan amanah yang diberikan.

"Tadi itu rasanya senang, terkejut. Semoga bisa mengemban amanah yang beliau berikan," jelas gadis kelahiran 13 Januari ini.

Meski hanya bertemu 10 menit, Raeni merasa bangga dengan pertemuan ini. Dia pun mendapat pesan khusus dari SBY.

"Beliau bilang nanti setelah selesai kembali ke negara dan membangun negara, semoga bisa mengabdi untuk negeri ini," ujar si bungsu dari dua bersaudara ini.

Lalu kapan dia akan terbang ke Inggris? "Katanya terserah saya, tunggu saya sudah siap dulu, mohon doanya," tutupnya sambil tertawa.

Dikutip dari situs presiden.go.id, dalam pertemuan tadi SBY meminta langsung kepada Mendikbud M Nuh mengurus beasiswa S2 untuk Raeni.

"Saya sudah berbicara dengan Mendikbud, semua sependapat bahwa negara, pemerintah, saya harus mendorong dan membantu Raeni mencapai cita-citanya," ujar SBY.

SBY menambahkan, saat ini pemerintah mengeluarkan program beasiswa pendidikan langsung dari Presiden. Namun, tidak mudah orang-orang yang mendapatkan beasiswa itu. Terkecuali Raeni. 

"Ada sekarang beasiswa Presiden, tidak banyak yang bisa masuk situ karena pilihan yang berprestasi kemudian punya semangat untuk maju," jelas SBY.

sumber : merdeka.com

IPK 3,98, anak buruh tani ini akan lanjutkan kuliah ke Belanda



TWEET CO.ID - Prestasi membanggakan, atau sekolah yang tinggi tak harus datang dari keluarga yang berkecukupan. Keterbatasan ekonomi keluarga, tidak menghalangi seseorang untuk menggapai cita-cita setinggi langit.

Meskipun berasal dari keluarga buruh tani yang bergelut dengan kemiskinan, Angga Dwituti Lestari, anak kedua pasangan Supriyanto dan Sugiyarto, warga desa Cibuk Lor I, Margoluwih, Sayegan, Sleman, Yogyakarta ini bisa menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, dengan mencetak Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.

Angga, gadis kelahiran Sleman 21 Februari 1992 tersebut mampu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi. Gadis yang akrab disapa Eng tersebut, memang sejak kecil selalu berprestasi. Berbagai lomba seperti cerdas cermat, lomba pidato Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, membaca Al Qur'an, pernah diikutinya dan beberapa kali mencetak juara.

"Memang sejak kecil saya berlatih memacu diri saya untuk berprestasi. Meskipun juara, orangtua tidak pernah memberikan hadiah mewah, cukup mengajak saya dan kakak saya makan mie ayam di warung biasa," ujar Angga dengan mata berkaca-kaca, saat mengenang masa kecilnya.

Tak hanya itu, Eng yang ditemui merdeka.com di kampus UNS, semenjak kecil sudah terbiasa hidup serba kekurangan. Selain berasal dari keluarga miskin yang terbelit utang, kedua orangtuanya juga hanya bekerja sebagai buruh tani, yang hanya cukup untuk makan seadanya.

"Sejak kecil saya makan nasi dengan lauk kerupuk saja. Atau sayuran yang dipetik di sekitar rumah. Makan mie ayam bagi kami sudah sangat istimewa. Sampai sekarang orangtua saya masih seperti itu. Setiap makan enak ya mie ayam. Mereka tidak mau, saya ajak makan di rumah makan, meskipun saya lagi ada rezeki sedikit," kenangnya.

Ketidakmampuan kedua orang tuanya tak membuat Eng patah semangat. Semenjak SMP, Eng sudah harus bekerja untuk membantu uang sekolah. Bahkan semasa SMA hingga kuliah, kedua orangtuanya sama sekali tak bisa membiayai pendidikannya. Namun dengan kesederhanaan itu ternyata mampu memacu semangatnya untuk meraih pendidikan tinggi. IPK yang dicapainya selama kuliah di Jurusan Biologi selalu 4, hanya satu semester saja dia mendapatkan IPK 3,86.

"Saya juga pernah mewakili UNS ke Jerman untuk program World Student Environment Summit 2013 lalu. Sekarang ini saya masih menunggu pengumuman untuk bisa melanjutkan kuliah S2 di Leiden University, Belanda melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Afirmasi. Insya Allah dua tahun selesai atau mudah-mudahan lebih cepat selesai kayak di UNS, harusnya kan 4 tahun tapi 3,5 tahun selesai," katanya.

Usaha jus organik dan mengajar les untuk biaya kuliah

Kondisi serba kekurangan tak lantas membuat gadis yang bercita-cita menjadi pengajar ini berhenti mengenyam pendidikan. Untuk bisa kuliah di UNS, gadis yang pintar mengaji tersebut harus bekerja keras. Meskipun telah mendapatkan beasiswa bidik misi, tetapi untuk hidup di Kota Solo dirinya harus mau bekerja dengan menjadi guru les dan bahkan membuat usaha jus organik.

"Sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga lulus kuliah, says tidak pernah meminta uang dari orangtua. Kalaupun diberi saku, pasti saya tabungkan," paparnya.

Selain harus bekerja, Eng juga sangat aktif di beberapa kegiatan dan organisasi. Saat ini, Eng juga aktif mengajar di karang taruna dan Al Qur'an di desanya secara suka rela. Eng meyakini, jika ingin berhasil, dirinya harus mau bekerja keras, serta tidak terlalu banyak tidur.

"Saya tidur hanya tiga jam sehari, bahkan pernah selama tiga hari tiga malam tidak bisa tidur karena harus menyelesaikan pekerjaan dan tugas," jelasnya.

Berkat kerja keras dan pengorbanan yang dilakukannya selama ini, terbukti telah membuahkan hasil. Dukungan doa dari orangtua dan kampus diakuinya sangat berperan besar dalam meraih cita-citanya. Selain mendapatkan beasiswa bidik misi, dari program kewirausahaan Eng mengaku juga mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha jus organiknya.

"Banyak bantuan dari kampus, UNS juga mensponsori saya untuk terbang ke Jerman," ucapnya bangga.

Selain orangtua dan kampus, dukungan dari teman-temannya kuliahnya juga sangat besar. Untuk urusan merawat giginya yang menggunakan kawat gigi atau behel itu pun, dia mengaku mendapatkan semuanya secara gratis dari seorang dokter gigi yang juga sahabatnya di kampus.

"Sebenarnya saya sempat bingung saat mengenakan behel, karena itu bertolak belakang dengan kondisi keluarga saya. Tetapi ini semua gratis dari dokter gigi yang juga sahabat saya, dia merawat gigi saya karena ada kelainan dengan gigi saya, untuk mengunyah sakit karena tidak sinkron," urainya.

Mengenai cita-citanya, Eng mengaku ingin menjadi seorang pengajar atau dosen. Menurutnya menjadi pengajar itu mempunyai kepuasan dan kebanggaan tersendiri.

"Dari kecil saya suka mengajar, baik di TPA, PMR maupun les. Sebab kalau misalnya saya sendiri tidak berprestasi, tapi orang-orang yang saya bagi ilmu berprestasi, atau menjadi juara kelas, tentu itu akan menjadi kebanggaan saya," pungkasnya. (Merdeka.Com)

Pernah kerja jadi babysitter, Mina kini lanjutkan S2 ke China



TWEET CO.ID - Kebutuhan hidup di Banda Aceh semakin hari semakin tinggi. Demikian juga untuk kebutuhan biaya kuliah. Sehingga Siti Aminah yang kuliah membiaya sendiri harus putar otak untuk mencari uang tambahan agar bisa melanjutkan studinya.

Meminta pada Ibunya di Bener Meriah itu tidak mungkin. Syukur ibunya di Bener Meriah bisa makan dan membiayai adiknya yang masih kecil saat itu. Sehingga Mina tidak pernah meminta uang biaya kuliah pada Ibunya.

Kemudian, Mina mencoba untuk membuat lamaran kerja di instansi pemerintah. Ini juga berkat saran dan masukan dari rekan-rekannya. Namun, lamaran yang dimasukkan di setiap instansi pemerintah semua ditolak, karena memang tidak ada lowongan kerja yang dibuka, apalagi Mina masih mengandalkan ijazah SMU.

"Hampir semua instansi pemerintah sudah saya kirim lamaran kerja, bahkan pernah di kantor Gubernur waktu saya kirim lamaran, Satpam bilang tidak ada lowongan kerja di sini, apa lagi hanya ijazah SMU," kata Siti Aminah pada merdeka.com, Sabtu (28/6).

Mina tidak hanya mengirim lamaran di instansi pemerintah. Akan tetapi Mina juga mengirim lamaran kerja di mana saja ada. Termasuk dia mengirim lamaran di sejumlah fakultas di Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry tempat ia selesaikan studi. Tekatnya hanya satu, bisa mendapatkan penghasilan untuk menyelesaikan studinya.

Akhirnya Mina diterima di perpustakaan Fakultas Syariah UIN Arraniry yang dulunya masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Arraniry. Saat itu kepala perpustakaan Fakultas Syariat adalah Ali Abubakar. Di perpustakaan itu, Mina bekerja selama 3 bulan.

"Saya diterima di perpustakaan itu karena Pak Ali sayang sama saya, waktu itu gaji saya dikeluarkan uang dari kantong pribadi Pak Ali," ujarnya.

Kemudian, Ali Abubakar tidak mampu membiayai lagi Mina bekerja di perpustakaan itu. Ali Abubakar menawarkan Mina untuk menjadi babysitter anaknya. Saat itu, Ali Abubakar bertempat tinggal di Darussalam dan Mina pun bekerja sebagai babysitter selama 1 bulan.

"Saya sempat bingung cara mengurus anak-anak bapak itu, karena memang belum pernah punya pengalaman bekerja seperti itu, anak-anak yang saya urus itu berusia 3 sampai dengan 7 tahun," katanya.

Tidak hanya sebagai babysitter, berbagai macam pekerjaan telah dilakukan Mina. Termasuk menjadi seorang penulis buku. Dia menjadi penulis buku Damai Usai Perang yang dikeluarkan oleh Lembaga Aceh Institut.

Aceh Institut adalah sebuah lembaga kajian dan penelitian. Di lembaga tersebut terdapat banyak akademisi dan praktisi berkumpul melakukan kajian berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, terutama pengkajian resilusi konflik dan juga filsafat.

Setelah perjalanan panjang perjuangan menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri, Mina diterima di Central China Normal University (CCNU) Jurusan Magister Librarian and Science di China.

Mina mengaku, seluruh biaya kuliah di CCNU nantinya sepenuhnya dari beasiswa. Namun Mina tidak menyebutkan mendapatkan beasiswa dari mana. Akan tetapi, Mina sendiri sangat bersyukur bisa diterima melanjutkan S2 di negeri tirai bambu tersebut. "Alhamdulillah saya sekarang diterima di CCNU China, ini beasiswa," tutur Mina.

Banyak aral melintang dihadapi Mina saat hendak berniat untuk melanjutkan studinya. Di Indonesia, ada beberapa kampus ternama Mina tidak diterima. Sebut saja misalnya Mina pernah mencoba di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Mina harus menelan pil pahit karena tidak diterima.

Namun bukan berarti patah arang dengan beberapa kali gagal diterima di universitas di dalam negeri. Akhirnya kini Mina tinggal menunggu waktu untuk berangkat ke negeri tirai bambu untuk melanjutkan studinya.

Ada hal yang membuat Mina kebingungan saat ini. Rencananya keberangkatan ke Negara China pada bulan September 2014 mendatang ada kendala keuangan untuk mengurusi pospor dan segala macam administrasi lainnya yang membutuhkan dana sebesar Rp 10 juta.

"Saya butuh uang Rp 10 juta, jadi saya sampai saat ini belum ada uang sebesar itu, tetapi saya yakin, saya akan dapatkan uang itu dengan segala upaya yang akan saya kerjakan nantinya, Allah pasti akan membuka jalannya nantinya," ujarnya.

Kisah Usep, anak Petani tanpa tangan dan satu kaki kuliah di Unpad



TWEET CO.ID - Perjuangan adalah awal dari kemenangan. Pepatah itu patut disematkan kepada Usep Rohmat. Dia adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) jurusan kesejahteraan sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Dengan segala keterbatasan fisik mahasiswa semester VI ini sudah menggapai separuh mimpinya. Dia memang tak ingin meneruskan rantai kemiskinan di keluarganya yang secara temurun hanya menjadi buruh tani. 

Usep yang terlahir tanpa dua tangan sempurna serta hanya miliki satu kaki kini mampu mendapatkan pendidikan tinggi di kampus yang dicita-citakannya. Dengan segala kekurangannya dia mampu meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,5.

Kepada merdeka.com, pria berkaca mata ini menceritakan awal mula masuk kampus yang sudah ada sejak 1957 ini. Usep sempat tak mempunyai tujuan hidup tatkala orang tuanya mengaku tak mampu membiayai kuliah. Keluarganya menyarankan semua anaknya agar bisa bantu orang tuanya di Cianjur sana. 

Usep lulus di SMA 1 Ciwidey pada 2011. "Pas beres SMA saya sempat bingung mau ke mana arah hidup saya. Saya tidak mau keluarga nantinya terus bertani," kisah Usep membuka pembicaraan. 

Dalam hati, anak ke empat dari lima bersaudara ini merasa iri melihat temannya ramai-ramai menentukan pilihan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan modal Rp 200 ribu yang diberi orang tuanya sebagai kado kelulusan, Usep memberanikan diri membeli formulir seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Usep merasa yakin bisa melewati ujian tertulis ini meski kondisi fisiknya tidak sempurna.

"Dulu saya pilihan satu ambil jurusan Ilmu Politik UI, lalu ke dua Ekonomi Syariah IPB dan ketiga Fisip Unpad," imbuh pria kelahiran 30 Desember 1993 ini.

Tak dinyana, atas restu Ilahi, pria yang mengagumi sosok Soekarno ini diterima di Fisip Unpad. Usep bahagia bukan kepalang. Kedua orang tua, Salman dan Kaesih hanya menangis terharu. 

Kabar baik itu membuat keluarganya bimbang karena jalur SNMPTN tidak membebaskannya dari uang kuliah. 

Lagi-lagi langkah Usep diuji. Usep memohon bantuan ke kampus Unpad untuk membebaskan biaya kuliah. "Saya meminta bantuan, akhirnya Unpad ngasih bantuan selama satu semester," tutur Usep.

Untuk membuktikan diri, dia akhirnya belajar dengan lebih giat lagi. karena kegigihan dan tekad Usep membuat Unpad mendaftarkannya di program beasiswa Bidikmisi. 

Akhirnya penyuka sepak bola Jerman ini pun masuk di jajaran eksklusif mahasiswa berprestasi yang tidak mampu yang menerima bantuan biaya kuliah dan biaya hidup dari pemerintah. "Sekarang pendidikan, tempat tinggal dan biaya hidup saya ditanggung," terangnya sembari memperlihatkan kondisi asrama II yang berada di lantai I.

Jika ada peluang untuk menempuh pendidikan kembali, Usep tak menutup kemungkinan akan melanjukan ke jenjang yang lebih tinggi. "Belajar itu tidak ada batasannya, kalau ada waktu dan kesempatan kenapa tidak," tuturnya yang ingin bekerja diperusahaan BUMN Pertamina ini.

Dia sedikit berpesan kepada mereka yang memiliki ketebatasan dalam tubuhnya, "Bahwa kekurangan bukanlah alasan. Di mana pun kita terlahir, apapun yang ada dalam kondisi kita, berusahalah."

"Kita harus punya keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada dalam diri kita ini bisa dioptimalkan. Kalau orang lain bisa sukses kenapa kita tidak. Kita harus buktikan dengan hal yang lebih," ucapnya lugas.

sumber : merdeka.com

Kegigihan Birrul agar bisa kuliah bikin Presiden SBY menangis



TWEET CO.ID - Kesempatan untuk merasakan bangku kuliah tidak membuat Birrul Qodriyyah lantas berpuas diri. Masuk kuliah dengan beasiswa penuh membuatnya semakin menjadikan semangatnya untuk berkarya meraih prestasi semakin meluap.

Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di kampus, Birrul berjanji dalam hati akan menjadi mahasiswa peringkat pertama di kampusnya.

Waktu pertama kali kuliah saya pengen dapat rangking satu di kampus. Bayangan saya kuliah itu kayak SMA ada rangkingnya, ternyata nggak ada, jadi yang pokoknya menjadi mahasiswa terbaiklah, IPK tinggi, kata putri pertama pasangan suami istri Muhamad Jawahir dan Siti Mujahadah kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Meski sibuk dengan kegiatan akademik, Birrul juga tetap gigih mengikuti berbagai lomba karya tulis dan juga lomba-lomba lainnya. Dalam beberapa kesempatan lomba dia berhasil menyabet juara pidato, karya tulis, meraih Bidik Misi Award dan sempat didapuk sebagai duta keperawatan nasional 2013. Lebih dari 100 piagam penghargaan dia dapat dalam kurun waktu tiga tahun masa kuliahnya.

Dari sekian banyak prestasi yang diraihnya, bagi Birrul yang paling berkesan dan membanggakan ketika dia menjadi mahasiswa berprestasi di UGM dan juga di tingkat nasional.

Paling membanggakan menjadi mahasiswa berprestasi, mapres itu kayak mewujudkan keinginan untuk menjadi rangking satu di UGM, ujarnya.

Setelah menjadi mahasiswa berprestasi UGM, Birrul dikirim universitasnya untuk mengikuti persiapan mahasiswa berprestasi tingkat nasional di Jakarta. Setelah melalui proses yang sulit dan persaingan antar universitas, akhirnya Birrul berhasil membuat nama kampusnya harum.

Ya alhamduliah, proses mulai dari pendaftaran sampai pesaingan disana bisa dilalui. Padahal banyak tesnya, mulai debat, presentasi, sampai psikologi, beruntung bisa menjaga nama baik kampus. Karena kalau ke nasional atas nama kampus, jadi harus benar-benar matang persiapannya, jelas Birrul.

Kisah perjuangan Birrul untuk kuliah membuat Presiden SBY menangis. Dalam suatu kesempatan, Birrul mendapat kesempatan untuk memberikan testimoni kepada SBY dalam acara Bidik Misi di Jakarta. Saat itu, dari seribuan mahasiswa dari seluruh daerah penerima bidik misi dikumpulkan di Jakarta. Satu dari mereka mendapat kesempatan mewakili teman-temannya untuk berdialog dengan presiden.

Setelah diadakan seleksi oleh panitia, Birrul lah yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan testimoni pada SBY mewakili teman-temannya. Birrul sendiri merasa kaget dan tidak percaya jika dirinya yang mendapatkan kesempatan itu.
Saya kaget ketika saya yang dipercaya untuk menyampaikan testimoni, padahal ada seribu lebih mahasiswa lainnya, kata Birrul.

Birrul pun akhirnya menulis kisah perjuangannya untuk kuliah. Kisah perjuangan Birrul mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, usahanya menabung dan mencari uang kuliah dengan mengikuti lomba rupanya menyentuh hati SBY. Ketika Birrul membacakannya, SBY tampak terharu dan menitikkan air mata.

Saya tadinya nggak tau kalau pak Presiden sampai nangis, tahunya setelah mendapat banyak telepon dari wartawan yang mau wawancara karena bisa membuat Presiden menangis, ujarnya.

Seusai acara, Birrul dipanggil Presiden untuk berbincang-bincang langsung. Mendengar itu, Birrul merasa begitu senang, dia tidak menyangka mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang langsung dengan Presiden.

Setelah itu saya dipanggil Presiden, di sana salaman dengan pak Presiden kemudian ngobrol-ngobrol, nggak nyangka bisa langsung berbincang dengan Presiden. Saat ngobrol, Presiden juga bilang tersentuh sampai menangis mendengar kisah saya, jelas Birrul.

Sumber : Merdeka.Com

Prestasi Anak Tukang Bambu Kuliah di Kedokteran


Ayah Atih adalah seorang penjual bambu yang penghasilannya tidak tetap setiap bulannya. Sementara ibunda, seorang ibu rumah tangga.

TWEET CO.ID - Biaya pendidikan yang tidak murah serta seleksi yang ketat, membuat banyak orang pesimistis mendaftar ke program studi yang banyak diminati calon mahasiswa, fakultas Kedokteran contohnya.

Hal ini pula yang sempat dirasakan Atih Novia Apriliani. Dia adalah satu dari 14 mahasiswa program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014, dinyatakan lolos sebagai penerima Bidikmisi.

Mulanya, gadis berhijab yang akrab disapa Atih ini merasa tidak percaya diri mendaftar di Fakultas Kedokteran Unpad. Yang ia dengar, kuliah di Fakultas Kedokteran bukan hanya sulit seleksinya tetapi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Kuliah kan harus biaya banyak. Tapi orangtua kalau biaya segitu enggak ada. Apalagi kalau punya cita-cita dokter biayanya bisa sampai ratusan juta," kata Atih.

Ayah Atih adalah seorang penjual bambu yang penghasilannya tidak tetap setiap bulannya. Sementara ibunda, seorang ibu rumah tangga.

Mojang Bandung ini adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Alumni SMAN 1 Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat ini merupakan siswa berprestasi di sekolahnya dan sering meraih peringkat satu di kelas sejak duduk di Sekolah Dasar.

Dalam meraih prestasi, Atih punya 'resep' tersendiri. Selain belajar, berdoa, rutin beribadah serta kerja keras, dia selalu berusaha rendah hati.

"Jangan sombong dengan apa yang kalian dapat, karena itu hanya titipan Allah, tak pantas kita menyombongkan diri. Tapi bersyukurlah dan tetap menjadi sosok yang rendah hati," tulis Atih dalam blog pribadinya.

Dia berpesan jangan berhenti untuk bermimpi, karena mimpi akan membangunkan kita dari keterpurukan. Kata dia, percaya dengan kemampuan kalian sendiri, kesuksesan bukan ditentukan oleh orang lain, tapi diri sendiri.

"Hidup itu bukan untuk bergaya, tapi untuk mencari gaya yang bisa kita menjadi orang yang berguna sukses di dunia dan di akhirat".

Atih yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi dokter mengucapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan Unpad atas adanya program beasiswa yang diberikan. "Mudah-mudahan saya bisa memberikan kontribusi yang baik dan menjaga amanah ini agar saya tetap bisa berprestasi," tutur mantan Ketua OSIS di SMA-nya ini.

(Ism, Sumber: Unpad.ac.id)

Putaran Gasing Pak Parman di Kota Tua Jakarta


TWEET CO.ID - Gedung di wilayah barat laut Jakarta itu megah berdiri ratusan tahun. Meninggalkan nuansa anggun dan tetap lestari meski zaman berpacu dengan langkah manusia.

Ramai-ramai orang pergi ke sana bersama keluarga tercinta sekadar wisata sejarah sambil mencari buah tangan unik. Suara siulan bambu pun menggema di antara keramaian, suara dari putaran gasing yang dijajakan Pak Parman (42).

"Ini saya jual gasing, kretekan, dan suling. Semuanya dari bambu yang asli bikinan sendiri. Dari beberapa batang bambu bisa jadi banyak mainan seperti ini," kata Pak Parman di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa (17/6/2014).

Gasing buatan Pak Parman berbentuk tabung dengan batang-batang yang menjulang ke atas dan bawah. Batang di bawah sebagai poros berputar, sementara batang yang di atas untuk melilitkan tali pemutar gasing.

Tabung di badan gasing berongga menimbulkan bunyi nyaring ketika berputar. Karena buatan tangan, gasing-gasing Pak Parman bentuknya berbeda-beda.

Ada lagi yang dia sebut kretekan, sebuah mainan yang jika diputar menimbulkan bunyi seperti ketukan bambu. Kemudian komoditas lainnya yaitu suling bambu.

"Semua harganya sama, saya tawarkan Rp 10.000 satunya. Tapi kalau ada tawar menawar ya beda lagi. Semua mainan harganya segitu termasuk suling," ujar Pak Parman

Sebulan sekali Pak Parman pulang ke kampung halaman di Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk produksi mainan-mainan bambu. Sekali produksi bisa ratusan mainan yang jadi.

Di Ibukota ini Pak Parman tinggal bersama kedua temannya yang juga menjual mainan-mainan bambu pada kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Namun tempat mangkal mereka berlainan.

"Teman saya ada yang jualan di Pasar Pagi, ada yang di Stasiun Kota. Pokoknya cari tempat mangkal sendiri-sendiri biar cepat habis," ucap bapak beranak satu ini.

"Kalau pas bikinnya di kampung itu bisa sampai dua minggu. Setelah itu di Jakarta bisa sampai sebulan," lanjut dia.

Liburan sekolah selalu yang paling ditunggu oleh Pak Parman. Dia rela tak menikmati liburan bersama keluarga tercinta demi mendapat untung berlimpah.

JEJAK